![]() |
| Ilustrasi menulis dengan tangan (Foto: okezone) |
Jakarta (AsiaNews24) - Di tengah penggunaan perangkat digital yang semakin luas, kebiasaan menulis dengan tangan mulai jarang dilakukan, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas menulis secara manual dapat memberikan dampak berbeda terhadap kerja otak dibandingkan mengetik menggunakan papan ketik.
Penelitian yang dilakukan oleh F. R. van der Weel dan Audrey L. H. van der Meer dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU) menemukan bahwa menulis dengan tangan dapat melibatkan koneksi yang lebih luas antarbagiannya di otak. Aktivitas tersebut juga dinilai dapat membantu seseorang dalam memahami dan memvisualisasikan konsep.
Dalam penelitian tersebut, aktivitas otak sejumlah mahasiswa diamati ketika mereka menulis menggunakan pena digital dan saat mengetik. Menulis dengan tangan yang dilakukan lebih lambat dinilai memberi kesempatan bagi seseorang untuk berpikir lebih cermat, reflektif, serta menganalisis informasi secara kreatif dan kritis.
Saat menulis secara manual, seseorang tidak hanya memikirkan isi tulisan. Otak juga harus mengatur gerakan jari, arah tulisan, tekanan tangan, penglihatan, serta koordinasi motorik secara bersamaan. Proses tersebut membuat berbagai bagian otak yang berkaitan dengan perhatian, persepsi, bahasa, penglihatan, dan gerakan ikut bekerja.
Meski demikian, penelitian tersebut juga mendapat kritik dari sejumlah peneliti lain terkait keterbatasan metode, analisis, dan penafsiran hasilnya. Karena itu, temuan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari penelitian ilmiah yang masih terus dikaji.
Untuk meningkatkan kebiasaan menulis tangan, seseorang dapat mulai dengan membawa buku catatan dan alat tulis, memperbanyak kegiatan membaca, serta meluangkan waktu untuk menulis secara rutin. Aktivitas menulis tidak harus selalu bersifat formal, tetapi dapat berupa catatan sederhana, surat, puisi, maupun daftar pribadi.

